Saturday, July 26, 2014

Abstract Class dan Interface

Abstract Class dan interface

Abstract Class
Definisi class :
class adalah blueprint/rancangan yang belum diinstansiasi menjadi objek, sehingga jika kita ingin membuat objek maka instansiasikan sebuah kelas. Tetapi pada kenyataannya, tidak semua kelas dapat diinstansiasi.
Contoh kasus nyata, misal ada seorang desainer pakaian mendesain kameja batik bertangan panjang, maka desain tersebut bisa dibuatkan bajunya oleh desainer tersebut. Adapun kameja yang dibuat pasti sesuai dengan desain yang sudah dibuat. sehingga tujuan seorang desainer mendesain baju adalah untuk dibuatkan bajunya.
Contoh kasus nyata lainnya adalah misal seorang pelukis melukis sebuah pemandangan. Tujuan seorang pelukis tersebut membuat gambar bukanlah untuk dibuatkan bendanya, karena seorang manusia tidak mungkin bisa membuat gunung, sawah, pepohonan, dll. Artinya pemandangan merupakan gambar yang tidak mungkin derealisasikan/diinstansiasikan.

Deklarasi Abstract Class :
Untuk cara mendeklarasikan kelas abstrak adalah dengan mencantumkan kata kunci abstract sebelum mencantumkan kata kunci class. Sedangkan didalam kelas abstrak tersebut terdapat deklarasi metode abstrak dan metode kongkrit.
Contoh format pendeklarasian kelas abstrak :
abstract class {


}
Contoh pengaplikasian abstract kelas :
public abstract class BangunDatar{
public abstract double luas();
public abstract void keliling(double x, double y);
}

Interface
Definisi Interface :
Interface dalam bahasa java bukanlah "tampilan", tetapi interface sendiri merupakan sebuah konsep OOP dalam bahasa java.
Contoh kasus nyata, ikatan seorang ibu dan anak. Sang anak terikat dengan aturan dari sang ibu. misalnya sang ibu memiliki aturan seperti ini, "jam 8 malam, semua anak harus belajar setiap harinya". Konsep seperti ini merupakan konsep pewarisan kelas pada umumnya. Dimana sang anak terikat oleh aturan dari sang induk.
Contoh kasus nyata lainnya adalah anak-anak sekolah yang sedang belajar. siapakan orang tua mereka ? Jawaban yang jelas, orang tua masing-masing murid mungkin ada yang sama, tetapi mayoritas berbeda-beda. Tapi mengapa mereka harus repot melakukan aturan yang sama ? Tiap hari para murid harus bersekolah. Murid-murid tersebut satu sama lain tidak ada hubungan saudara, tetapi mereka terikat oleh aturan yang sama. Konsep inilah yang dimaksud dengan konsep interface.
Kesimpulannya, interface adalah blok yang berisikan kumpulan metode kosong (tanpa badan). Dimana, ketika sebuah kelas mengimplementasikan interface, maka kelas tersebut tidak ada hubungan hirarki dengan interface yang diimplementasi. Sehingga, kegunaan interface adalah mengikat aturan kepada kelas-kelas, tampa terhubung dengan konsep pewarisan.

Deklarasi interface :
Cara mendeklarasikan interface adalah dengan mencantumkan kata kunci interface sebelum mencantumkan NamaInterface. Sedangkan didalam interface tersebut hanya terdapat deklarasi metode kosong saja. Berikut format pendeklarasian interface :
interface {


}
Contoh :
public interface IntfCoba {
int atribut1=10;
public double atribut2 = 20.1;
void metode1(inta, double b);
public void metode2(String x, String y);
}
Note : Interface memang diijinkan untuk mendeklarasikan atribut. Tetapi dalam konsep OOP yang baik, interface seharusnya memiliki metode kosong interface saja.

 Penggunaan interface :
Interface haruslah diimplementasi oleh kelas biasa, ini berfungsi untuk meng-override metode yang ada dalam kelas interface.
gunakan kata kunci implements untuk mengimplementasi interface.
Berikut format deklarasi kelas implements :
class implements {




Contoh Soal :
1. Jelaskan perbedaan kelas abstrak dan interface !

Polimorphism (Kebanyakrupaan)

Definisi polimorphism :
polimorpisme adalah kemampuan sebuah variabel referensi dari kelas super untuk berganti-ganti peran menjadi kelas sub.

Contoh Penggunaan Polimorphism :
class A {
}
class B extends A {
}
class C {
public static void main(String[]args) {
A kelasA = new B(); //Variabel kelasA berperan sebagai kelas B
}
}

Implementasi Polimorpisme
Terdapat 2 cara mengimplementasikan polimorpisme dalam bahasa java, yaitu :
1. Polimorpisme menggunakan objek referensi
Contoh polimorpisme menggunakan objek referensi :
class D {
public static void main(String[]args) {
A objekA = new A();
B objekB = new B();
C objekC = new C();
objekA.cetak();
objekA = objekB;
objekA.cetak();
objekA = objekC;
objekA.cetak();
}
2. Polimorpisme menggunakan Argumen (passing Referensi)
Contoh polimorpisme menggunakan Argumen
class D{
public static void cetakInfo(A objek) {
System.out.println(objek.cetak()+" dengan nilai : "+objek.nilai); }
public static void main(String[]args) {
A objekA = new A();
B objekB = new B(10);
C objekC = new C(15);
cetakInfo(objekA);
cetakInfo(objekB);
cetakInfo(objekC);

Contoh soal kasus pembuatan program menggunakan Polymorphism Java
Sebuah game sederhana menceritakan tiga orang pahlawan yang bernama CaptainAmerika, Thor, dan IronMan. Ketiga pahlawan tersebut ternyata memiliki NenekMoyang yang sama. NenekMoyang tersebut dapat melakukan semua kemampuan yang dimiliki oleh ketiga pahlawan tersebut.
Buatlah sebuah program berdasarkan ketentuan berikut :
1. Buatlah tiga buah kelas dengan nama CaptainAmerica, Thor, dan IronMan.
2. Kelas CaptainAmerika, Thor dan IronMan merupakan turunan dari kelas NenekMoyang.
3. Kelas (CaptainAmerika, Thor, dan IronMan) memiliki senjata (variable) dan fungsiSenjata(method) yang berbeda-beda.
4. CaptainAmerika memiliki senjata berupa tameng yang berfungsi untuk bertahan dari musuh.
5. Thor memiliki senjata berupa palu yang berfungsi untuk memanggil halilintar.
6. IronMan memiliki senjata berupa jet pack yang berfungsi untuk terbang.
7. Buatlah NenekMoyang menjadi pahlawan yang dapat melakukan semua kemampuan yang dimiliki oleh CaptainAmerika, Thor, dan IronMan.
8. Gunakan konsep polymorphism.

Contoh Output :
Nenek moyang punya senjatayang berfungsi untuk bertahan dari musuh
Nenek moyang punya senjatayang berfungsi untuk memanggil halilintar
Nenek moyang punya senjatayang berfungsi untuk terbang

Penyelesaian Menggunakan Polimorphism Objek referensi
Download sourcecode NenekMoyang.java
Download sourcecode CaptainAmerica.java
Download sourcecode IronMan.java
Download sourcecode Thor.java
Download sourcecode Main.java

Penyelesaian Menggunakan Polimorphism Argumen
Download sourcecode NenekMoyang.java
Download sourcecode CaptainAmerica.java
Download sourcecode IronMan.java
Download sourcecode Thor.java
Download sourcecode Main.java

Download .pdf

Wednesday, July 23, 2014

Inheritance (Pewarisan) Java

Definisi Inheritance :
Pewarisan atau dalam bahasa inggris inheritance merupakan salah satu konsep inti pada pemrograman berorientasi objek(OOP), dimana kelas dapat memiliki keturunan (subclass) dan induk (superclass) sehingga menghasilkan sebuah hirarki kelas.

Penggunaan Kata Kunci extends
Kata kunci extends adalah kata kunci yang digunakan untuk merelasikan antara kelas sub (anak) dan kelas super (induk), sehingga menjadi suatu relasi pewarisan.
Kata kunci extends dituliskan pada kelas subnya.
Cara menggunakan kata kunci extends :
public class sub extends super { }

Penggunaan modifier protected
Modifier protected merupakan hak akses yang hanya bisa diakses oleh kelas tersebut berikut dengan semua kelas sub(keturunannya) sehingga kelas yang berada di luar hirarki tersebut tidak bisa mengakses atribut ataupun metode yang di deklarasikan sebagai modifier protected.

Urutan eksekusi konstruktor pada pewarisan
Konstruktor yang dikerjakan oleh program adalah konstruktor default kelas-kelas induknya. Adapun urutan eksekusi konstrutor, dikerjakan secara berurutan dimulai dari kelas yang memiliki hirarki paling tinggi sampai ke pada kelas yang diinstansiasi atau disebut juga dengan alur ancestor.
Contoh, terdapat hirarki kelas sebagai berikut :
A - B - C, kelas A menempati hirarki tertinggi, maka konstruktor yang dikerjakan adalah konstruktor A() - B()-C().

Penggunaan kata kunci super dan metode super()
kata kunci super adalah kata kuci yang digunakan untuk menunjuk atribut maupun metode kelas super (induk).
metode super() adalah metode yang digunakan untuk memanggil konstruktor dari kelas super(induk)

Penggunaan metode overriding
sebuah metode dikatakan overriding, jika dalam hirarki kelas terdapat nama metode yang sama, tetapi pada kelas yang berbeda. dengan kata lain, jika sebuah kelas sub(anak) membuat nama metode yang sama dengan nama metode yang dimiliki oleh kelas super(induk), maka metode pada kelas sub tersebut dikatakan meng-override metode.Sehingga jika kita memanggil metode tersebut dari kelas sub-nya, maka metode milik kelas sub yang akan di eksekusi. Meng-override metode sering juga disebut me-replace metode.

Penggunaan kata kunci final dalam pewarisan
metode final adalah metode yang tidak dapat di-override oleh kelas sub-nya.
kelas final adalah kelas yang tidak dapat di-extends atau diwariskan.






'

Tuesday, July 22, 2014

Method dan Constructor Overloading

Definisi Overloading :
Overloading adalah deklarasi lebih dari satu metode ataupun konstruktor dengan nama yang sama, tetapi memiliki kegunaan yang berbeda.

Ketentuan Overloading : 
1. Jumlah argumen dan urutan tipe data yang digunakan berbeda.
2. Jumlah argumen berbeda, meskipun tipe data yang digunakan sama.
3. Urutan tipe data yang digunakan berbeda, meskipun jumlah argumen sama.

Metode Overloading :
Metode Overloading adalah deklarasi lebih dari satu metode dengan nama yang sama, tetapi memiliki kegunaan yang berbeda.
Contoh Metode Overloading :
public void metOver(int a) {}
public void metOver(int a, double b) {}
public void metOver(double a, int b) {}
public void metOver(int a, int b, double c) {}
//public void metOver(int b) {} SALAH karena metode metOver() dengan argumen dan tipe data (int) sudah ada yaitu metOver(int a) {}
//public void metOver(int x, int y, double z) {} SALAH karena metode metOver() dengan argumen dan tipe data (int,int,double) sudah ada yaitu metOver(int a, int b, double c) {}

Konstruktor Overloading :
Konstruktor (Constructor) adalah metode yang memiliki nama yang sama dengan nama kelas. Biasanya konstruktor dipanggil ketika membuat objek dari sebuah kelas. Seingga bisa dibilang bahwa konstruktor merupakan metode yang pertama kali dipanggil atau dikerjakan ketika terdapat pembuatan objek dari kelas tersebut. dan bisa juga dibilang bahwa konstruktor merupakan metode inisialisasi dari instansiasi kelas menjadi objek.
Contoh Konstruktor Overloading :
class LuasSegitiga {
private double alas;
private double tinggi;
public LuasSegitiga() {} //konstruktor default
public LuasSegitiga(double alas) {} //konstruktor
public LuasSegitiga(double alas,double tinggi) {} //konstruktor
}

Memanggil konstruktor menggunakan metode this() :
Konstruktor bisa memanggil konstruktor lainnya. Metode this() merupakan metode yang digunakan untuk konstruktor memanggil konstruktor lain pada kelas yang sama.
Contoh penggunaan metode this() :
public class arfThis{
public arfThis() {
this("Andrian Ramadhan","Sistem Informasi 8");
System.out.println("Universitas Komputer Indonesia");
}
public arfThis(String nama, String kelas) {
System.out.println("Nama     : "+nama);
System.out.println("Kelas     : "+kelas);
}
public static void main(String[]args) {
arfThis arf = new arfThis();
}
}


Contoh Kasus :
Buatlah sebuah program untuk menghitung volume bangun ruang. Bangun ruang yang akan dihitung adalah kubus, balok, dan tabung!
Berikut ketentuan untuk program yang harus dibuat :
1. Buatlah tiga buah method overloading.
- volume(int s)
- volume(int p,int l, int t)
- volume(double pi, int r, int t).
2. Metode volume(int s) digunakan untuk menghitung volume kubus dengan rumus volume=s*s*s.
3. Metode volume(int p,int l, int t) digunakan untuk menghitung volume balok dengan rumus volume=p*l*t.
4. Metode volume(double pi, int r, int t) digunakan untuk menghitung volume tabung dengan rumus volume=pi*r*r*t.
Tampilan Output :
Volume kubus dengan s=5                            : 125
Volume Balok dengan p=2, l=3, t=4              : 24
Volume Tabung dengan pi=3.14, r=10, t=2   : 628.0

Download source code
Download .pdf

Friday, July 11, 2014

Pengantar Ilmu Hadis

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
            Hadis dipahami sebagai pernyataan, perbuatan, persetujuan, dan hal yang berhubungan dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam tradisi Islam, hadis diyakini sebagai sumber ajaran agama kedua setelah al-Quran. Disamping itu, hadis memiliki fungsi sebagai penjelas terhadap ayat-ayat al-Quran sebagaimana dijelaskan dalam QS: an-Nahl ayat 44. Hadis tersebut merupakan teks kedua, sabda-sabda nabi dalam perannya sebagai pembimbing bagi masyarakat yang beriman. Akan tetapi, pengambilan hadis sebagai dasar bukanlah hal yang mudah. Mengingat banyaknya persoalan yang terdapat dalam hadis itu sendiri. Sehingga dalam berhujjah dengan hadis tidaklah serta merta menggunakan suatu hadis sebagai sumber ajaran tanpa adanya sumber yang jelas.
Adanya rentang waktu yang panjang antara Nabi dengan masa pembukuan hadis adalah salah satu permasalahannya. Perjalanan yang panjang dapat memberikan peluang adanya penambahan atau pengurangan terhadap materi hadis. Selain itu, rantai perawi yang banyak juga turut memberikan kontribusi permasalahan dalam meneliti hadis sebelum akhirnya digunakan sebagai sumber ajaran agama. Mengingat banyaknya permasalahan, kajian-kajian hadis semakin meningkat, sehingga upaya terhadap penjagaan hadis itu sendiri secara historis telah dimulai sejak masa sahabat yang dilakukan secara selektif.
Para muhaddisin, dalam menentukan dapat diterimanya suatu hadis tidak mencukupkan diri hanya pada terpenuhinya syarat-syarat diterimanya rawi yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena mata rantai rawi yang teruntai dalam sanad-sanadnya sangatlah panjang. Oleh karena itu, haruslah terpenuhinya syarat-syarat lain yang memastikan kebenaran perpindahan hadis di sela-sela mata rantai sanad tersebut. Laporan ini mencoba mengelompokkan dan menguraikan secara ringkas pembagian-pembagian hadits ditinjau dari berbagai aspek.


BAB II
MATERI

Studi hadis itu seputar syara dan kritik supaya lebih bersifat analitik dan harus berbasis takrij. Takrij adalah metode untuk menentukan esensi dan kehujahan suatu hadis. Kitab-kitab takrij yang bisa dijadikan referensi adalah :
1.      Al-Muntaqo : Ibnu Tainiyah
2.      Riyadu Tusolihin : Nawawi
3.      Uluhul Haram : Askholani
4.      Alulu wal Majan : Muat Baqi
Inti dari studi hadis terdiri atas tiga aspek. Pertama adalah esensi. Esensi hadis akan menjawab apakah suatu hadis otentik atau tidak. Lalu yang kedua adalah takrij atau teori dasar atau definisi. Suatu hadis biasanya digunakan empat takrij yaitu, lugotan, islihatan, dilalatan, dan arkhanan. Menilai suatu hadis otentik atau tidak, minimal harus memenuhi definisi secara istilah, dilalah, dan arkhan. Artinya adalah menurut keilmuan apakah hadis tersebut sesuai atau tidak dengan definisi istilah. Secara konkrit apakah hadis itu mutaban atau diabah menyatakan kesepakatan bahwa itu merupakan hadis dan terdapat dalam kitab-kitabnya. Lalu yang ketiga secara unsur, apakah hadis tersebut memenuhi unsur-unsurnya atau tidak. Tiga hal ini dapat menjawab apakah suatu hadis otentik atau tidak.
Hadis dikatakan hadis apabila secara istilah tepat. Hadis itu secara istilah menurut para ahli hadis pokoknya adalah segala yang dinisbat kepada Nabi SAW yaitu perkataan dan perbuatan Nabi. Konvensinya kemudian diperluas sampai kepada sahabat dan tabiin. Jadi secara istilah hadis yang konvensional adalah hadis yang dinisbat dari Nabi, sahabat, dan tabiin. Para sahabat yang hidup pada masa Nabi hingga sekitar 80 H. Tabiin masa hidupnya kira-kira sampai 130-150 H. Jadi untuk melihat apakah hadis itu otentik atau tidak kita hanya perlu melihatnya apakah hadis itu dari Nabi, sahabat, tabiin, dan dari Allah yang bukan al-Quran.
Hadis secara dilalah, maksudnya adalah dimana hadis secara konkrit dan realnya ada pada kitab hadis. Kitab hadis ada dua jenis yaitu, Musnad yang disusun berdasarkan rawi sahabat dan Mushannaf yang disusun berdasarkan bab-bab temanik. Seluruh kitab hadis jumlahnya ada 65 kitab yang disusun dari tahun 100 H sampai 500 H. Selanjutanya hadis dikatakan otentik apabila semua unsurnya terpenuhi. Unsur-unsur hadis yaitu, rawi, sanad, dan matan.
Secara singkatnya untuk menentukan keontetikan suatu hadis adalah yang pertama hadis itu berasal dari Nabi, sahabat, tabiin, dan Allah yang bukan al-Quran. Kemudian ada atau tidak hadis itu didalam kitab hadis serta lengkap atau tidaknya unsur hadis tersebut.
Selanjutnya adalah tentang kemurnian hadis yang menentukan kefalidan suatu hadis. Faliditas hadis adalah kehujjahan hadis. Hujjah adalah kapasitas hadis sebagai panduan amal, penjelas al-Quran, maupun sebagai dalil yang bisa menghasilkan hukum Islam. Dalam ilmu hadis ada tiga kaidah untuk menentukan apakah hadis tersebut falid atau tidak. Kaidah untuk menentukan kehujjahan suatu hadis :
1.      Tahsin Kuantitas
Tahsin kuantitas dapat dilihat dari jumlah perawinya. Hadis dikatakan mutawatir apabila setiap tabaqonya berjumlah empat atau lebih. Hadis yang mutawatir jarang ditemukan. Apabila tabaqonya sedikit maka disebut Ahad.
2.      Tahsin Kualitas
Tahsin Kualitas dibagi menjadi dua, yaitu hadis Maqbul dan Mardud. . Hadis yang shahih dan hasan termasuk hadis Maqbul atau hadis yang dapat diterima sebagai hujjah sedangkan hadis yang doif termasuk hadis Mardud atau hadis tersebut tidak diterima sebagai hujjah.
3.      Tahsin Aplikasi.
Tahsin aplikasi adalah pelaksanaan atau implementasi suatu hadis dalam kehidupan. Apakah hadis tersebut menentang al-quran atau tidak dan apakah hadis tersebut dapat diterima akal sehat.
Secara singkatnya, kualitas suatu hadis dilihat dari jumlah rawi, sanad, dan matan, kemudian apakah hadis tersebut ada perubahan atau tidak, lalu tidak bertentangan dengan al-Quran dan akal. Kualitas suatu hadis bisa berubah disebabkan oleh sahabat matannya lebih dari dua (syahid) dan kitabnya juga lebih dari dua (mutabi).
Tathbiq hadis maqbul itu ada yang ma’mul dan ghairo ma’mul. Kaedahnya hanya ada dua. Pertama apabila hadis maqbul itu hanya satu atau banyak tapi sama, kita tinjau apakah hadis itu jelas atau tidak jelas. Jika jelas maka ma’mul tetapi jika tidak jelas maka ghairo ma’mul. Kedua apabila hadis itu banyak tapi tidak sama maka harus dilihat lagi nashnya.

BAB III
ANALISIS TEORI

3.1         Definisi Hadis
Jumhur al-Muahdditsin (dalam Saifudin Nur,2011:2), mengemukakan bahwa hadis adalah sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muhammad saw baik berupa perkataan, pernyataan (taqriri), dan yang sebagainya.
Sesungguhnya Hadis itu bukan hanya yang dimarfu’kan kepada Nabi saw saja, melainkan dapat disebutkan pada apa yang “Mauquf” (dihubungkan dengan perkataan, dan sebagainya dari sahabat), dan pada apa yang “maqthu” (dihubungkan dengan perkataan dan sebagainya dari tabi’iy,Muhammad Mahfudh (dalam Ahmad Izzan,2011:7).
Menurut pemateri kuliah umum, hadis berasal dari Nabi Muhammad saw, para sahabat, para tabiin, dan Allah yang bukan al-Quran.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hadis adalah perkataan, perbuatan, dan pernyataan Nabi Muhammad saw yang dihubungkan dengan perkataan sahabat dan tabi’in serta bisa datang dari Allah SWT yang bukan merupakan al-Quran.

3.2         Unsur Hadis
   Para ulama sepakat bahwa unsur-unsur hadis adalah adanya sanad, matan, dan rawi. Pemateri kuliah umum hadis juga menyampaikan bahwa unsur-unsur hadis adalah sanad, matan, dan rawi. Tanpa lengkapnya unsur-unsur hadis maka hadis tersebut tidak terbukti otentik.
3.2.1        Sanad
Sanad menurut bahasa artinya sandaran atau sesuatu yang kita jadikan sandaran. Sedangkan menurut istilah, sanad adalah jalan yang dapat menghubungkan matan hadis kepada Nabi Muhammad saw.
Mahmud at-Thahan (dalam Daniel Juned,2010:18), menjelaskan bahwa sanad adalah silsilah orang-orang yang meriwayatkan hadis dan menyampaikan kepada matan hadis.
Ajjah al-Khatbi dalam buku Usul al-Hadits menulis bahwa sanad adalah silsilah para perawi yang menukilkan hadis dari sumbernya yang pertama.
3.2.2        Matan
Matan menurut bahasa adalah kekerasan, kekuatan, dan kesangatan.. Menurut istilah matan adalah sesuatu kalimat setelah berakhirnya sanad. Definisi lain menyebutkan matan adalah beberapa lafal hadits yang membentuk beberapa makna.
Muhammad at Thahan (dalam Saifudin Nur,2011:20), mengemukakan bahwa matan adalah suatu kalimat tempat berakhirnya sanad.
Matan adalah sesuatu kepadanya berakhir sanad (perkataan yang disebut mengakhiri sanad), Ibnu Jama’ah (2009:20).
Berbagai redaksi definisi matan yang diberikan ulama, intinya tetap sama yaitu materi atau berita hadis itu sendiri yang datang dari Nabi. Matan hadis ini sangat penting karena menjadi topik kajian dan kandungan syariat Islam untuk dijadikan petunjuk dalam beragama.
3.2.3    Rawi           
Kata rawi dalam bahasa Arab berasal dari kata riwayah yang berarti memindahkan dan menukilkan. Yakni memindahkan atau menukilkan suatu berita dari seseorang kepada orang lain. Dalam istilah Ar-rawi adalah orang yang meriwayatkan atau orang yang menyampaikan periwayatan hadis dari seorang guru kepada orang lain yang terhimpun kedalam buku hadis. Untuk menyatakan perawi hadis dikatakan dengan kata “hadis diriwayatkan oleh”.
Sebenarnya antara sanad dan rawi merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan karena sanad hadis pada setiap generasi terdiri dari perawi. Mereka adalah orang-orang yang menerima dan meriwayatkan atau memindahkan hadits dari seorang guru kepada muridnya atau teman-temannya.
3.3         Kehujjahan Hadis
Hujjah adalah kapasitas hadis sebagai panduan amal, penjelas al-Quran, maupun sebagai dalil yang bisa menghasilkan hukum Islam. Dalam ilmu hadis ada tiga kaidah untuk menentukan apakah hadis tersebut falid atau tidak.
3.3.1        Segi Kuantitas
               Pembagian hadis dari segi kuantitas ditinjau dari sedikit banyaknya perawi yang menjadi sumber berita, hadis terbagi kepada dua macam, yaitu Mutawatir dan Ahad.
3.3.1.1    Hadis Mutawatir
Hadis Mutawatir adalah hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah perawi yang secara tradisi tidak mungkin mereka sepakat untuk berdusta dari sejumlah perawi yang sepadan dari awal sanad sampai akhirnya, dengan syarat jumlah itu tidak kurang pada setiap tingkatan sanadnya.
Definisi lain mengenai hadis Mutawatir adalah suatu hadis hasil tanggapan dari panca indra yang diriwayatkan oleh sejumlah besar perawi, yang menurut kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat dusta.
DR. Syamssuddin Arif menyimpulkan bahwa sebuah hadis dapat disebut mutawatir apabila memenuhi syarat sebagai berikut :
-       Nara sumbernya harus benar-benar mengetahui apa yang mereka katakan, sampaikan, dan laporkan. Jadi tidak boleh menduga-duga atau apalagi meraba-raba.
-        Mereka harus mengetahui secara pasti dalam arti pernah melihat, menyaksikan,mengalami, dan mendengarnya secara langsung tanpa disertai distorsi, ilusi, dan semacamnya.
-       Jumlah nara sumbernya cukup banyak sehingga tidak mungkin suatu kekeliruan atau kesalahan dibiarkan atau lolos tanpa koreksi.
3.3.1.2     Hadis Ahad
Hadis Ahad adalah hadis yang diriwayatkan oleh satu atau dua perawi ataupun lebih, yang tidak memenuhi syarat-syarat masyhur ataupun mutawatir, dan tak diperhitungkan lagi jumlah perawinya setelah itu (tingkatan berikutnya).
3.3.2        Segi Kualitas
Para ulama meninjau hadis dari segi kualitas dengan mengkajinya dalam bidang pengetahuan hadis yang kuat dari yang lemah dan tentang hal-ihwal para perawi yang diterima hadisnya atau ditolak, menghasilkan beberapa simpulan ilmiah dan istilah khusus yang mengindikasikan keshahihan dan kedhaifan suatu hadis. Dalam arti lain, hadis terbagi menjadi yang maqbul dan yang mardud. Yang maqbul adalah yang memenuhi syarat-syarat diterimanya riwayah. Sedangkan yang mardud adalah yang tidak memenuhi semua atau sebagian syarat diterimanya riwayat itu.
3.3.2.1    Hadis Shahih
Menurut Ibn ash-Shalah (dalam Saifudin Nur,2011:149), menjelaskan bahwa hadis yang shahih adalah hadis yang sanadnya bersambung-sambung melalui periwayatan orang yang adil lagi sempurna ingatannya dari orang yang adil lagi pula sampai ujungnya, tidak janggal dan tidak terkena ‘illat.
Definis lain adalah hadis yang dinukil oleh perawi adil, sempurna ingatan, sanadnya bersambung-sambung, tidak ber’illat dan tidak janggal.
3.3.2.2    Hadis Hasan
Imam al-Tirmizi dan ulama-ulama setelahnya mendefinikan hadis hasan sebagai hadis yang pada sanadnya tidak terdapat orang yang tertuduh dusta, tidak terdapat kejanggalan pada matannya, dan hadis itu diriwayatkan tidak dari satu jurusan yang sepadan maknanya.
Perbedaan hadis shahih dan hasan adalah dalam hadis shahih disyaratkan dhabit yang sempurna, sedangkan dalam hadis hasan disyaratkan dhabit yang tidak kuat ingatan.
3.3.2.3    Hadis Dhoif
Hadis Dhoif adalah hadis yang kehilangan satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadis shahih dan hadis hasan.

3.3.3        Segi Aplikasi
Tahsin aplikasi adalah pelaksanaan atau implementasi suatu hadis dalam kehidupan. Apakah hadis tersebut menentang al-quran atau tidak dan apakah hadis tersebut dapat diterima akal sehat.


BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Hadis adalah perkataan, perbuatan, dan pernyataan Nabi Muhammad saw yang dihubungkan dengan perkataan sahabat dan tabi’in serta bisa datang dari Allah SWT yang bukan merupakan al-Quran. Hadis terdiri atas unsur sanad, matan, dan rawi.
Hujjah adalah kapasitas hadis sebagai panduan amal, penjelas al-Quran, maupun sebagai dalil yang bisa menghasilkan hukum Islam. Dalam ilmu hadis ada tiga kaidah untuk menentukan apakah hadis tersebut falid atau tidak. Kaidah untuk menentukan kehujjahan suatu hadis :
4.      Tahsin Kuantitas
Tahsin kuantitas dapat dilihat dari jumlah perawinya. Hadis dikatakan mutawatir apabila setiap tabaqonya berjumlah empat atau lebih. Hadis yang mutawatir jarang ditemukan. Apabila tabaqonya sedikit maka disebut Ahad.
5.      Tahsin Kualitas
Tahsin Kualitas dibagi menjadi dua, yaitu hadis Maqbul dan Mardud. . Hadis yang shahih dan hasan termasuk hadis Maqbul atau hadis yang dapat diterima sebagai hujjah sedangkan hadis yang doif termasuk hadis Mardud atau hadis tersebut tidak diterima sebagai hujjah.
6.      Tahsin Aplikasi.
Tahsin aplikasi adalah pelaksanaan atau implementasi suatu hadis dalam kehidupan. Apakah hadis tersebut menentang al-quran atau tidak dan apakah hadis tersebut dapat diterima akal sehat.

Sanitasi Lingkungan Pasar dan Upaya Pengelolaannya (PASAR GEDEBAGE BANDUNG)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Sanitasi merupakan salah satu komponen dari kesehatan lingkungan, yaitu perilaku yang disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Sanitasi pasar adalah usaha pengendalian melalui kegiatan pengawasan dan pemeriksaan terhadap pengaruh-pengaruh yang ditimbulkan oleh pasar yang erat hubunganya dengan timbul atau merebaknya suatu penyakit.Kondisi sanitasi di Indonesia memang tertinggal cukup jauh dari Negara-negara tetangga. Dengan Vietnam saja Indonesia hampir disalip, apalagi dibandingkan dengan Malaysia atau Singapura yang memiliki komitmen tinggi terhadap kesehatan lingkungan di negaranya. Jakarta hanya menduduki posisi nomor 2 dari bawah setelah Laos dalam pencapaian cakupan sanitasinya.
Salah satu contoh dari kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia adalah sanitasi lingkungan pasar, khususnya pasar tradisional. Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios.
Salah satu contoh pasar tradisional yang ada di Indonesia khususnya di daerah Bandung adalah Pasar Gede Bage. Pasar Gede Bage memiliki kondisi sanitasi yang masih belum bisa dikatakan ideal sebagaimana pasar tradisional di negara-negara maju.
Sanitasi sangat menentukan keberhasilan dari paradigma pembangunan kesehatan lingkungan lima tahun ke depan yang lebih menekankan pada aspek pencegahan dari aspek pengobatan. Sehingga adanya upaya perbaikan sanitasi sejak dini kususnya pada pasar tradisional dapat membantu dalam peningkatan kualitas kesehatan masyarakat disamping adanya perbaikan sanitasi di lingkungan pasar tradisional.

B.     Problematika
1.      Bagaimana kondisi sanitasi di Pasar Gede Bage ?
2.      Bagaimana upaya pengelolaan sanitasi di Pasar Gede Bage ?

C.     Tujuan Penelitian
1.      Mengetahui kondisi sanitasi di Pasar Gede Bage.
2.      Menjelaskan upaya apa saja yang ditempuh dalam pengelolaan sa
D.    Manfaat Penelitian
1.      Memberikan informasi kepada pembaca mengenai kondisi sanitasi di Pasar Gede Bage.
2.      Memberikan informasi dan pemecahan masalah sanitasi di Pasar Gede Bage.














BAB II
METODE PENELITIAN

Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Metode penelitian kualitatif sering disebut metode penelitian naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah (natural setting) karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif. Metode penelitian kualitatif ini berisi tentang bahan prosedur dan strategi yang digunakan dalam riset serta keputusan- keputusan yang dibuat tentang desain riset.
Menurut Sutopo (2006: 9), metode pengumpulan data dalam penelitian kualitatif secara umum dikelompokkan ke dalam dua jenis cara, yaitu teknik yang bersifat interaktif dan non-interaktif. Metode interaktif meliputi interview dan observasi berperan serta sedangkan metode noninteraktif meliputi observasi tak berperan serta, teknik kuesioner, mencatat dokumen, dan partisipasi tidak berperan. Sedangkan Sugiyono (2008: 63) mengungkapkan ada empat macam teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dokumentasi dan gabungan /triangulasi.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Wawancara adalah usaha mengumpulkan informasi dengan mengajukan sejumlah pertanyaan secara lisan untuk dijawab secara lisan pula. Ciri utama dari wawancara adalah kontak langsung dengan tatap muka  (face to face relation ship) antara si pencari informasi dengan sumber informasi (Sutopo 2006: 74).
Observasi hakikatnya merupakan kegiatan dengan menggunakan pancaindera, bisa penglihatan, penciuman, pendengaran, untuk memperoleh informasi yang diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Hasil observasi berupa aktivitas, kejadian, peristiwa, objek, kondisi atau suasana tertentu, dan perasaan emosi seseorang. Observasi dilakukan untuk memperoleh gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian.
Informasi juga bisa diperoleh lewat fakta yang tersimpan dalam bentuk surat, catatan harian, arsip foto, hasil rapat, cenderamata, jurnal kegiatan dan sebagainya. Data berupa dokumen seperti ini bisa dipakai untuk menggali infromasi yang terjadi di masa silam. Peneliti perlu memiliki kepekaan teoretik untuk memaknai semua dokumen tersebut sehingga tidak sekadar barang yang tidak bermakna.
Jenis wawancara meliputi wawancara bebas, wawancara terpimpin, dan wawancara bebas terpimpin (Sugiyono, 2008: 233). Wawancara bebas, yaitu pewawancara bebas menanyakan apa saja tetapi juga mengingat akan data apa yang dikumpulan. Wawancara terpimpin, yaitu wawancara yang dilakukan oleh pewawancara dengan membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci. Wawancara bebas terpimpin, yaitu kombinasi antara wawancara bebas dan wawancara terpimpin.

















BAB III
DESKRIPSI DATA

            Berdasarkan penelitian yang penulis lakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, penulis menemukan bahwa Pasar Gede Bage masih jauh dari pasar sehat. Akan tetapi, tidak semua unsur di Pasar Gede Bage itu buruk. Ada beberapa unsur yang sudah bisa disebut cukup baik dan memadai, salah satunya adalah kondisi toilet umumnya.
Dari beberapa foto hasil dokumentasi, penulis menemukan bahwa kondisi toilet umum cukup baik dan memadai. Hanya saja, dari beberapa hasil dokumentasi, penulis menemukan bahwa kondisi kesehatan, kebersihan, keindahan, dan kenyamanan di pasar tersebut masih belum bisa dikatakan cukup baik. Banyak sekali sampah yang berserakan di pinggir jalan. Sampah-sampah tersebut datang dari para pedagang dan pengunjung. Namun, dari hasil wawancara dan observasi yang peneliti lakukan, diketahui bahwa penyumbang sampah terbesar adalah penjual karena lebih banyak ditemukan sampah seperti sayuran dan buah-buahan busuk. Selain itu juga saluran air yang terletak di samping pasar tidak mengalir dan sering meluap ketika hujan karena sampah yang menumpuk.











BAB IV
PEMBAHASAN
           
Berdasarkan hasil dari penelitian mengenai kondisi sanitasi Pasar Gede Bage, dapat kita ketahui bahwa kondisi sanitasi di pasar tersebut belum bisa dikatakan baik. Namun bukan berarti kondisi sanitasi di Pasar Gede Bage buruk sepenuhnya. Misalnya saja beberapa kondisi toilet umum di Gede Bage yang cukup baik bagi kesehatan. Hal ini dapat dilihat secara langsung dari kondisi toilet tersebut. Air yang digunakan juga memenuhi tiga syarat air yang baik yaitu, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak berasa.
Dari hasil wawancara dengan beberapa pengelola toilet di Pasar Gede Bage, dapat diketahui bahwa ternyata toilet tersebut merupakan usaha perseorangan. Pihak pasar hanya menyediakan tempat yang kemudian disewakan sebagai toilet umum. Penyewa harus membayar uang sewa setiap bulannya. Diakui bahwa tarif yang dipasang penyewa bagi pengguna toilet digunakan untuk membayar sewa dan perawatan terhadap kondisi toilet tersebut.
Selain kondisi toilet, peneliti juga menemukan banyaknya sampah yang berserakan di lingkungan Pasar Gede Bage. Diketahui bahwa penyumbang sampah terbesar adalah pedagang karena lebih banyak ditemukan sampah sayuran dan buah-buahan busuk yang dibiarkan begitu saja. Hal ini tentu sangat mengganggu kenyamanan dan juga kesehatan di lingkungan Pasar Gede Bage.
Sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan pada Pasal 5 UU Pengelolan Lingkungan Hidup No.23 Th.1997, bahwa masyarakat berhak atas Lingkungan hidup yang baik dan sehat. Untuk mendapatkan hak tersebut, pada Pasal 6 dinyatakan bahwa masyarakat dan pengusaha berkewajiban untuk berpartisipasi dalam memelihara kelestarian fungsi lingkungan, mencegah dan menaggulangi pencemaran dan kerusakan lingkungan. Terkait dengan ketentuan tersebut, dalam UU NO. 18 Tahun 2008 secara eksplisit juga dinyatakan, bahwa setiap orang mempunyai hak dan kewajiban dalam pengelolaan sampah. Dalam hal pengelolaan sampah pasal 12 dinyatakan, setiap orang wajib mengurangi dan menangani sampah dengan cara berwawasan lingkungan. Masyarakat juga dinyatakan berhak berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan, pengelolaan dan pengawasan di bidang pengelolaan sampah. Tata cara partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah dapat dilakukan dengan memperhatikan karakteristik dan tatanan sosial budaya daerah masing-masing. Berangkat dari ketentuan tersebut, tentu menjadi kewajiban dan hak setiap orang baik secara individu maupun secara kolektif, demikian pula kelompok masyarakat pengusaha dan komponen masyarakat lain untuk berpartisipasi dalam pengelolaan sampah dalam upaya untuk menciptakan lingkungan perkotaan dan perdesaan yang baik, bersih, dan sehat.
Beberapa pendekatan dan teknologi pengelolaan dan pengolahan sampah yang telah dilaksanakan antara lain adalah:
1.      Teknologi Komposting
Pengomposan adalah salah satu cara pengolahan sampah, merupakan proses dekomposisi dan stabilisasi bahan secara biologis dengan produk akhir yang cukup stabil untuk digunakan di lahan pertanian tanpa pengaruh yang merugikan (Haug, 1980). Penelitian yang dilakukan oleh Wahyu (2008) menemukan bahwa pengomposan dengan menggunakan metode yang lebih modern (aerasi) mampu menghasilkan kompos yang memiliki butiran lebih halus, kandungan C, N, P, K lebih tinggi dan pH, C/N rasio, dan kandungan Colform yang lebih rendah dibandingkan dengan pengomposan secara konvensional.
2.      Teknologi Pembuatan Pupuk Kascing
3.      Pengelolaan sampah mandiri
Pengolahan sampah mandiri adalah pengolahan sampah yang dilakukan oleh masyarakat di lokasi sumber sampah seperti di rumah-rumah tangga. Model pengelolaan sampah mandiri akan memberikan manfaat lebih baik terhadap lingkungan serta dapat mengurangi beban TPA. Pemilahan sampah secara mandiri oleh masyarakat di Kota Denpasar masih tergolong rendah yakni baru mencapai 20% (Nitikesari, 2005).
4.   Pengelolaan sampah berbasis masyarakat
Pola pengelolaan sampah berbasis masyarakat sebaiknya dilakukan secara sinergis (terpadu) dari berbagai elemen dengan menjadikan komunitas lokal sebagai objek dan subjek pembangunan, khususnya dalam pengelolaan sampah untuk menciptakan lingkungan bersih, aman, sehat, asri, dan lestari. Undang-Undang tentang pengelolaan sampah telah menegaskan berbagai larangan seperti membuang sampah tidak pada tempat yang ditentukan dan disediakan, membakar sampah yang tidak sesaui dengan persyaratan teknis, serta melakukan penanganan sampah dengan pembuangan terbuka di TPA. Penutupan TPA dengan pembuangan terbuka harus dihentikan dalam waktu 5 tahun setelah berlakunya UU No. 18 Tahun 2008. Dalam upaya pengembangan model pengelolaan sampah pasar harus dapat melibatkan berbagai komponen pemangku kepentingan seperti pemerintah daerah, pengusaha, LSM, dan masyarakat.
Ada beberapa standar yang dapat menjadi indikator apakah pasar tersebut sehat ditinjau dari kondisi toilet umum, kenyamanan, dan juga kesehatan lokasinya, diantaranya adalah :
1.      Air bersih
-          Tersedia air bersih dengan jumlah yg cukup setiap hari secara berkesinambungan, minimal 40 liter per pedagang.
-          Kualitas air bersih yg tersedia memenuhi persyaratan.
-          Tersedia tendon air yang menjaminn kesinambungan ketersediaan air dan dilengkapi dengan keran yang tidak bocor.
-          Jarak sumber air bersih dengan pembuangan limbah minimal 10 m.
-          Kualitas air bersih diperika setiap enam (6) bulan sekali.
2.      Toilet
-          Harus tersedia toilet laki2 dan perempuan yg terpisah dilengkapi dengan tanda/simbol yg jelas dengan proporsi sbb : Setiap penambahan 40-100 orang harus ditambah satu kamar mandi dan satu toilet.
-          Didalam kamar mandi harus tersedia bak dan air bersih dalam jumlah yang cukup  dan bebas jentik.
-          Lantai dibuat kedap air, tidak licin, mudah dibersihkan dg kemiringan sesuai ketentuan yg berlaku sehingga tidak terjadi genangan.
-          Tersedia tempat sampah yg cukup.
3.      Pengelolaan sampah
-          Setiap kios/los/lorong terseia tempat sampah basah dan kering.
-          Terbuat dari bahan kedap air, tidak mudah berkarat, kuat, tertutup, dan mudah dibersihkan.
-          Tersedia alat angkut sampah yg kuat, mudah dibersihkan dan mudah dipindahkan.
-          Tersedia tempat pembuangan sampah sementara (TPS), kedap air, kuat, kedap air atau kontainer, mudah dibersihkan dan mudah dijangkau petugas pengangkut sampah.
-          TPS tidak menjadi tempat perindukan binatang (vektor) penular penyakit.
-          Lokasi TPS tidak berada di jalur utama pasar dan berjarak minimal 10 m dari bangunan pasar.
-          Sampah diangkut minimal 1 x 24 jam.
A.    Pendekatan Analisis Ekosistem
Ekosistem merupakan tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi. Ekosistem merupakan hubungan yang amat kompleks antara organisme dengan lingkungannya, baik biotik maupun abiotik yang secara bersama-sama membentuk sistem ekologi.
Dilihat dari analisis ekosistem mengenai keadaan Pasar Gede Bage, komponen lingkungannya meliputi biotik : hewan atau daging yang dijual, sayur-mayur, buah-buahan, makanan ringan, makanan berat, makanan pokok, rempah-rempah, dan barang lainnya, serta manusia. Sedangkan komponen yang meliputi abiotik atau komponen fisik meliputi : tanah, air, kios, cahaya lampu atau penerangan, energi matahari, alat transfortasi, inftrastruktur, dan sebagainya.
Hubungan antar sesama komponen tersebut, sama-sama saling memengaruhi antara komponen satu dengan komponen yang lainnya. Di dalam lingkungan fisik tadi, terdapat berbagai macam organisme baik secara individu maupun komunitas, yang pastinya akan terjadi saling berinteraksi denag unsur-unsur fisik disekelilingnya.
Jika dijelaskan, maka biotik dan abiotik secara alami akan saling berinteraksi. Sebagai studi kasus, hewan atau daging yang diperjual belikan, ia membutuhkan air untuk dibilas dan dibersihkan dari kotoran, selain itu juga ketika daging tersebut busuk, maka akan mencemari udara dan menimbulkan bau, timbulnya bau pada daging akan dihinggapi lalat dan pengurai lainnya. Ketika daging busuk dibuang ke sampah, ia akan dimakan dan di urai oleh bakteri.
Sama halnya dengan sayuran dan buah-buahan, membutuhkan air untuk dibilas atau dibersihkan, ketika busuk akan menjadi sampah dan mencemari air yang mengalir dalam sungai atau sanitasi yanga terdapat di pasar, banyaknya sayuran yang terlanjur dibuang begitu saja akan menyebabkan banjir dan saluran sungai tersumbat, akibatnya akses jalan tergenang air dan sampah, sehingga merusak sarana jalan, dan banyak merobohkan tanaman, bahkan mematikan tumbuh-tumbuhan yang ditanam di kawasan sungai yang terdapat di pasar tersebut.
Tanah, sebagai komponen fisik, akan memengaruhi sistem sanitasi, kedangkalan tanah akan dikeruk dan dipakai tambal jalan yang bolong, tanah juga berarti untuk menimbun tumbuhan yang hendak ditanam, tanpa tanah tumbuhan tidak akan bisa hidup dan berdiri menjulang, dan setiap tumbuhan dalam berkembang dan bermetamorfosis memerlukan cahaya matahari sebagai penghangat dan pengatur pembuahan untuk menjaga kesetabilan klorofil.
Transportasi dan sarana tidak akan ada di Pasar Gede Bage yang berdiri diatas tanah, tanpa tanah itu sendiri dengan bermacam-macam sarana dan transportasi, para penjual membawa jualannya menggunakan motor dari rumahnya atau tempat produksinya untuk sampai ke pasar, para pembeli tak sedikit menggunakan sarana transportasi angkutan umum untuk pergi ke pasar dan membawa hasil belanjaannya, menuju rumah serta sopir angkot mendapat bayaran dari jasanya untuk mencukupi perekonomian keluarga dan mempertahankan kehidupan keluarganya.
Dalam analisis ekosistem, lingkungan merupakan kesatuan dari dua komponen di atas tadi, yang dipadukan untuk melihat alur dan keterkaitannya masing-masing. Karena dalam ekosistem, tidak ada satupun komponen organisme yang sanggup melangsungkan hidupnya atas kekuatan sendiri tanpa mengandalkan kepada interaksi secara kait-mengait dengan lingkungannya.
Salah satu kaidah ekosistem adalah saat antara berbagai unsur dalam lingkungan seluruhnya terdpat suatu interaksi, slaing memengaruhi yang bersifat timbal balik (crucial interrelationship). Serta dalam ekosistem terjadi keseimbangan yang bersifat dinamis (berubah-ubah, kadang besar kadang kecil yang diakibatkan peristiwa alamiah atau karena ulah manusia) tidak statis.
B.     Pendekatan Analisis Sosiosistem
Menurut Rambo (1983) mengistilahkan hubungan antara sesama manusia dalam kajian ekologi disebut sistem sosial (sosiosistem) bukan ekosistem, sedangkan hubungan manusia dengan komponen lainnya disebut biosistem atau ekosistem. Selanjutnya, dalam sosiosistem selain membentuk interaksi manusia dengan sesamanya, juga ada interaksi antara komponen lain yang mengalir arus energi, materi, dan informasi. Kajian ekologi manusia yang menyangkut pada hubungan antara manusia dengan sesamanya yang menggunakan kaidah-kaidah ekosistem misalnya adaptasi, komunikasi, resiliensi, interaksi dan sebagainya.
Dari uraian pengertian sosiosistem diatas, dapat peneliti analisis dengan objek observasi kami di Pasar Gede Bage. Saat manusia dengan sesamanya saling memerlukan dan menguntungkan, ada objek ekosistem lain dibalik semua itu. Misalnya dalam kasus yang kami temui di Pasar Gede Bage. Antara penjual dan pembeli sendiri secara langung saling memengaruhi, dimana penjual diuntungkan oleh adanya pembeli, dan pembeli dimudahkan mendapatkan apa yang ia butuhkan dari penjual untuk mencukupi kebutuhannya.
Ketika adanya hubungan kausalitas atau timbal balik antara penjual dan pembeli, serta ada ekosistem lain didalamnya, menghasilkan pula hubungan antar manusia yang disebut interaksi, adaptasi dan sosialisasi. Jika seorang penjual dan pembeli tidak ada atau tidak menghasilkan interaksi, bukan transaksi namanya, dan bukan juga hubungan sosiosistem. Tawar menawar salah satu contoh interaksi, adaptasi dan sosialisasi.
Adaptasi manusia dengan sesama manusia misalnya dalam bentuk mengkonsumsi makanan pokok, mahasiswa yang lapar setelah selesai kuliah, mampir di rumah makan yang telah dihidangkan dan dimasak oleh pihak rumah makan, dan mahasiswa teresebut mengkomsumsi hasil kerja pihak rumah makan itu. Dengan adaptasi seperti ini, maka ekosistem interaksi antara manusia dengan sesamanya berlangsung seimbang dan penuh komitmen dan juga integritas dalam ekosistemnya. Selain dari materi yang disebutkan diatas, manusia juga beradaptasi dengan sesamanya dalam bidang nonmateri seperti bahasa, adat istiadat, budaya dan kebiasaan lainnya. Jika kita pergi keluar negeri namun kita tidak bisa berbahasa mereka, maka anak sulit saling memahami dan mengerti, dan tidak akan terjadi adaptasi yang seimbang.






















BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Pasar Gede Bage masih belum bisa dikatakan sebagai pasar yang memiliki sistem sanitasi yang baik dan juga masih kurang dalam segi kesehatan dan juga kenyamanan. Namun ada beberapa hal yang bisa disebut cukup baik yaitu kondisi toilet umumnya yang cukup nyaman dan bersih. Akan tetapi, jika dilihat dari kebersihan lingkungan, pasar tersebut masih sangat minim. Terbukti dari banyaknya sampah yang berasal dari penjual maupun pembeli yang tersebar dipinggir jalan. Hal ini tentu mengganggu pemandangan dan juga menunjukan kesehatan dan kenyamanan yang minim. Akibatnya, Pasar Gede Bage menjadi langganan banjir apabila hujan datang.
Dalam menanggulangi masalah yang ditemukan selama penelitian itu diperlukan kesadaran dari seluruh anggota pasar tersebut (penjual dan pembeli). Kita tidak dapat terus menerus mengharapkan pemerintah yang turun tangan dalam menyelesaikan masalah ini. Meskipun pemerintah memiliki program yang baik dalam menyelesaikan masalah ini, namun apabila tidak ada kesadaran dari masyarakat, masalah tersebut akan sulit untuk diselesaikan. Masalah terbesar saat ini di Gede Bage adalah sampah. Ada banyak cara yang bisa dilakukan dalam menyelesaikan masalah ini dan sudah sering digunakan yaitu, teknologi komposting, teknologi pembuatan pupuk kascing, pengelolaan sampah mandiri, dan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
B.     Saran
Sanitasi lingkungan dan kenyamanan serta kesehatan di Pasar Gede Bage tidak sepenuhnya buruk namun tidak juga dapat dikatakan baik. Kondisi toilet umum di pasar tersebut cukup baik sedangkan masalah kenyamanan dan kesehatan di lingkungan pasar masih sangat minim terbukti dari sampah yang tersebar di pasar tersebut. Sebagai anggota pasar, sudah sewajarnya kita turut memelihara dan meningkatkan hal yang baik di pasar tersebut dan memperbaiki yang belum baik.
Dalam menanggulangi masalah yang ditemukan selama penelitian itu diperlukan kesadaran dari seluruh anggota pasar tersebut (penjual dan pembeli). Kita tidak dapat terus menerus mengharapkan pemerintah yang turun tangan dalam menyelesaikan masalah ini. Meskipun pemerintah memiliki program yang baik dalam menyelesaikan masalah ini, namun apabila tidak ada kesadaran dari masyarakat, masalah tersebut akan sulit untuk diselesaikan.